Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Mengenal Deliberate Practice, Tembok Pemisah Antara Amatir dan Expert

7 min read

Apa Itu Deliberate Practice?

Mumpung masih inget
Saya mau share insight tentang “DELIBERATE PRACTICE”.
Penting dipelajari buat mereka yang mau menjadi seorang expert, di bidang apapun.

Ini gara-gara Jumatan kemarin di masjid sebelah kantor.

Seperti biasa sebelum shalat jumat bersama kan dibacain laporan keuangan sama takmir masjid

“Perolehan infaq minggu kemarin sebesar 1 juta sekian sekian rupiah” kata si takmir

Saya celingak-celinguk lihat samping kiri..kanan dan belakang

Masjid deket kantor memang bukanlah masjid besar..

Tapi paling tidak estimasi Saya ada 500 orang lebih yang tertampung disana. Karena selalu luber.

Dan mostly jamaahnya adalah karyawan dengan pendapatan yang lumayan. Paling tidak memiliki penghasilan yang tetap.

Tiba-tiba muncul bayangan itung-itungannya di kepala

Anggap saja ada 500 orang di masjid ini

Maka kalo dirata-rata infaq perorangan 1.000.000 / 500 orang

Hasilnya adalah 2000 per orang

Serius???

Ketika mendapati angka yang menurut Saya cukup miris ini.. yang Saya tunjuk pertama kali adalah tentu saja diri sendiri?

Lha kamu sendiri gimana?

Mencoba berbicara sendiri dengan hati kecil kaya di sinetron-sinetron

Saya coba mundur beberapa tahun kebelakang..

Apakah ada perubahan signifikan (growth) infaq saat ini dengan infaq 5 tahun dan 10 tahun yang lalu

Istighfar..Saya nya. Merasa tertampar.
Seperti ada yang lepas dari pengamatan..

Selama ini hanya fokus mikirin revenue growth, target super ketat yg terus bertumbuh dari tahun ketahun. Merasa malu dan evaluasi habis-habisan jika target gak kekejar.

Tapi infaq gak growth adem ayem aja.

Mungkin problem yang Saya alami juga temen-temen alami juga, dan banyak orang yang mengalami. Tapi juga gak pernah peduli dan diperhatikan serius.

Jadinya ngeri-ngeri sendiri

Katanya Pak Ustadz.. Salah satu indikator keberkahan adalah.. “Ziyadatul khair” atau bertambahnya kebaikan..

Lhah kalo besaran yang kita keluarkan ternyata gak naik-naik..berabe kan..
Istighfar lagi..

Sama aja itu berarti sebuah kemunduran..karena nilai infaq yg kita keluarkan itu semakin mengecil
Lho koq? Ya iya.. kan harga barang naik terus.. apa yang kita keluarkan juga stagnan

Anggap saja tahun 2000 kita start di angka Rp 10.000,-.
Ada yang masih berat ngeluarin 10rb seminggu? Atau hasil menyisihkan 1.500 per hari.

Tahun 2000 an nilai ini dulu dapat sekali makan di warteg.
Sekarang mestinya gak cukup.

Maka jika kita bikin target kenaikan infaq 10% pertahun, maka dengan itung-itungan Future Value.. harusnya infaq kita ditahun 2018 kurang lebih Rp 55.599,-

Koq cepet banget Mas ngitungnya?

He he kan ada kalkulatornya
https://www.investopedia.com/calculator/fvcal.aspx

Kalo dikasus masjid tadi..
500 orang x 55 ribu = 27.500.000 yang diterima masjid perminggu

Maka dari 500 jamaah saja masjid akan menerima 110.000.000 perbulan.

Jika ini benar terjadi maka dijamin gak bakalan ada masjid yg buka sumbangan di jalan-jalan.
Dan sebaliknya masjid malah akan jadi motor ekonomi umat.

Itu simulasi kalo kita startnya 10 ribu
Kalo kita startnya 100 ribu?

Harusnya di tahun 2018 infaq yang harus dikeluarkan per bulan sudah 5,559,917 per orang

Mungkin kita akan ketawa ya.. ha ha ha ya gak mungkin lah. Ya Sy juga puas menertawakan kebodohan Saya.

Kita memang suka pake standard ganda.
Untuk urusan duniawi simpanan, deposito, investasi, bisnis kita seneng pake hitungan compound interest, bunga berbunga.

Tapi begitu ngomongin infaq, jariyah yang sejatinya buat kita sendiri malah ogah-ogahan. Gak kenal Net Present Value, Future Value, CAGR nya 18 tahun gak berubah ya gak

Kasihan sekali Saya ini. Mikirin growth bisnis orang setiap hari. ‘Bisnis’ sendiri gak keurus.

Betapa susahnya memotivasi diri sendiri. Ini bukan amatir lagi, dari dulu sampe sekarang masih novice, masih newbee.

Contoh lain..

Saya yakin temen-temen disini banyak yang ikut komunitas macam One Day One Juz (ODOJ). Grup yang banyak mengajarkan cara menjadi konsisten dan istiqomah.

Karena dulu Sy merangkap jadi admin grup..setiap hari Sy merekap progress tilawah teman-teman di grup ODOJ.

Masya Allah berjuang untuk bisa konsisten ngODOJ itu perjuangan yang ruar biasa. Tiap hari jadi collector tilawah.. Akh..gimana sudah selesai tilawahnya? Belum ya.. Okay nanti infoin ya kalo sudah..

Tapi Saya punya satu anggota grup yang ruar biasa..

Mesti selalu japri ke Saya.. “Akh.. Juz yang belum kebaca mana aja? Kasih ana aja… ”

“Waduuh masih banyak Tadz.. ada 5 Juz..”

“Ya udah Saya ambil 5 itu Akh.. ”

Masya Allah… kita yang jagain satu aja mpot-mpotan beliaunya dengan entengnya mengambil lima tanpa keberatan sama sekali..

Bagaiamana cara bikin agar kita bisa ringan mengeluarkan infaq 100 ribu per minggu?

Bagaimana cara agar kita bisa mudah mengeluarkan 1 juta perminggu ke kotak jariyah?

Bagaimana cara agar enteng bisa tilawah 1 juz perhari

Bagaimana cara agar kita bisa ringan berlari 5 km sehari

Bagaimana caranya agar kita bisa enteng nulis 1 artikel per hari?

Secara cepat kita pasti akan menjawab… yaa.. dari bawah bertahap

Jika mau menuju 100.000 berarti kita naikkan bertahap Kang

5000 per minggu..nambah terus sampai 100.000?

Cara mencapai 1 juta juga gitu Kang bertahap

Biar kita bisa satu Juz ya 5 ayat perhari sebulan.. 10 ayat sehari bulan berikutnya.. 1 lembar ..2 lembar dulu sampai rutin bisa 1 juz sehari

Kalo mau nulis 1 artikel per hari ya.. kita mulai 1 paragraf dulu perhari.. 2, 3 sampai 10 bahkan 20 paragraf perhari.
Kata motivator jika ingin mulai menulis buku..mulailah dari satu kata perhari..

Yang penting bertahap.. gradual.. yang penting kita nyaman lah..

Dijamin…

Target yang kita canangkan gak akan pernah kekejar

Karena secara alamiah kita akan berduel dengan “kebosanan” kita dulu sebelum bener-bener sampai ditarget tujuan kita. Dan science mengatakan kita adalah pecundang dan sangat lemah kita berduel dengan kebosanan kita sendiri.

Secara ilmiah model gradual, berlatih model semampu kita, senyaman kita, meskipun kita lempeng binti istiqomah tetep gak akan maju-maju.

SEMUA MENJADI PILIHAN KITA, APAKAH MENJADI AMATIR SEUMUR HIDUP, ATAU SEORANG EXPERT

Ada dua model latihan yang bisa kita lakukan dengan hasil yang sama sekali berbeda.

Jika kita suka yang step by step.. langkah kecil yang tidak memberatkan.. yang bikin kita nyaman… artinya kita memang sudah menetapkan jalan untuk menjadi seorang AMATIR.. selamanya.
Wuih kejem banget Bang..
Bukan Sy yang bilang Bang.. Saya juga korban Bang.. korban menjadi amatir berlama-lama tanpa pernah sadar.

Kalo dibuku-buku dongeng kan ada.. “Happily ever after…” kalo ini “Amateur..ever after”..
Gak wuenaakk tenan.

Seorang EXPERT dibentuk tidak dengan latihan ringan dan menyenangkan

“Menyenangkan” itu artinya kita masih berada dalam ZONA NYAMAN kita

DELIBERATE PRACTICE selalu menetapkan 1 langkah DILUAR ZONA nyaman kita.
Tepatnya berada di LEARNING ZONE. Tapi masih dibawah PANIC ZONE.

Balik lagi ke problem diatas
Bagaimana cara agar “diringankan” dari problem-problem diatas

Jika kita ingin diringankan mengeluarkan 100 rb per minggu.. maka latihlah dengan mengeluarkan 100rb perhari

Jika mau diringankan 1 juta perminggu.. maka latihlah dengan mengeluarkan 1 juta perhari

Nahh..terus duitnya dari mana?? Nah itu perkara lain. Dari sini kita juga terpacu untuk growth bisnis kita. Bahasan berbeda.

Bagaimana caranya agar kita bisa ringan baca 1 juz perhari? Gembleng dengan 3-5 juz perhari dalam waktu 1 bulan paling tidak

Kalo mau konsisten menuju 1 tulisan perhari.. ya hajar dengan 5 tulisan per hari selama 30 hari minimal.

Selepas dari itu kita baru akan merasakan… 100 rb atau sejuta perminggu itu ringan.. 1 juz perhari itu ringan.. 1 tulisan perhari juga ringan

Kalo berdasarkan sedikit pemaparan Saya diatas

“Amateur practice” selalu memulai dari zona nyaman kita dan tumbuh secara bertahap.

“Deliberate Practice” langsung menyasar apa kelemahan kita.. di area yang sempit ini yang kita hajar habis-habisan. Menyeret kita ke LEARNING ZONE.

Terus apa lagi yang membedakan cara latihan mode AMATIR dan DELIBERATE

PENTINGNYA PERAN SEORANG COACH

Saya pernah menuliskan cerita Roger Banister yang menggembleng dirinya sampai menjadi orang pertama yang mampu menaklukkan “4 Minute Mile” atau challenge menaklukkan 1 mile dalam 4 menit

Target yang dulu seolah mustahil bagi manusia.. akhirnya ia pecahkan dengan bantuan seorang Coach.

Kenapa kita membutuhkan seorang Coach.
DELIBERATE PRACTICE membutuhkan supply FEEDBACK secara terus menerus.

Karena hanya Coachlah yang mampu mereview secara obyektif dan mampu melihat potensi yang kita punya. Termasuk menyemangati kota

Sebelum Banister sudah banyak orang yang mencoba menaklukkan “4 minute mile” sebagai lone wolf..atau pejuang sendiri. Mereka mencoba berlari lebih cepat dan cepat. Tapi mereka selalu kalah

Dan tak pernah tercapai

Kita butuh orang yang mampu secara OBYEKTIF mereview progress dan performance kita

Ini katanya Muhammad Ali tentang deliberate practice..

“I don’t count my sit-ups. I only start counting when it starts hurting. When I feel pain, that’s when I start counting, because that’s when it really counts.”
– Muhammad Ali

Ali tak pernah menghitung sit-up nya sampai ia benar-benar merasa kesakitan.
Ketika merasa sakit itulah artinya ia sudah berada diluar comfort zone nya

Sekarang semuanya dikembalikan lagi ke kitanya.

Apakah kita hanya ingin menjadi AMATIR selamanya ataukah seorang EXPERT dengan melalui proses yang menyakitkan dan berbatas waktu.

Semuanya tergantung dari menu latihan yang kita ambil

Bagaimana mendeteksi sebuah training didesain “deliberate” atau tidak

Pertama goals nya kita pastikan jelas, ada target yg ingin dicapai

Kedua kita ukur porsi latihannya
Apakah masih bikin kita “nyaman” atau “bikin otak kita kontraksi”?

Nyantai-nyantai saja..ataukah ada rasa “sakit” disana

Jika memaksa kita keluar dari zona nyaman… selamat Anda sedang berada dalam track yg benar

Karena sebenarnya Anda sedang disiapkan untuk track lari jangka panjang

Sebuah kebiasaan.. Namanya kebiasaan pasti jauh lebih ringan dari “penggemblengan”

Kalo ‘gemblengan’ nya aja udah ringan.. tidak mungkin kita akan memiliki kebiasaan yang lebih berat.

Tapi kalo gemblengannya berat, menjalani kebiasaan yg lebih ringan itu perkara mudah

Jadi jangan pernah mengeluh kalo sebuah training mahal koq tugasnya berat ya..bikin cenat-cenut he2.
Ketika teman-teman di Kelas Social Media Writing Skill mengeluhkan tugasnya berat..

Saya punya tiga kata andalan buat ngejawabnya.. “Tetap semangat yaaa..”

Karena kita sedang disiapkan untuk menjalani sesuatu yg “ringan” untuk jangka panjang. Namun ‘ringan’ bagi kita namun berat untuk orang awam..average people.

Dan jangan pernah menurunkan rasa sakit dengan menurunkan target

Siasati penawar rasa sakit dengan cara yang lain.

DO IT TOGETHER
Lakukan aktivitas tersebut secara bersama-sama atau berjamaah sehingga “terasa” lebih ringan

Itu “terasa” aja sih lebih ringan.. hanya secara psikologis lebih ringan

Tapi sebenarnya tidak.

Dulu jaman masih kuliah Saya punya teman seorang English Debating Coach… pelatih debat Bahasa Inggris.
Masa kuliah adalah moment pertama Saya dipanggil Coach, karena memang Saya dibayar untuk melatih orang berdebat menggunakan sistem parlemen. Jadi kita mensimulasikan bagaimana menjadi kubu pemerintah dan oposisi dalam format Asian Parliamentary System (APS).

Yang kubu government mati-matian mempertahankan issue nya, yang kubu oposisi mengkritik lawan habis-habisan. Kita diberi waktu 30 menit untuk diskusi, menyusun materi dan strategi. Issue nya memang serba dadakan.

Metode ini sampai saat ini adalah metode paling efektif untuk melatih critical thinking dan public speaking skill pada saat yang bersamaan.

Klien Saya pada saat itu adalah dosen-dosen bahasa Inggris, plus mahasiswa dari dosen tersebut.

Saya sendiri dulu juga punya seorang Coach sekaligus mentor Saya. Namanya Aribawa Pratama Assiddiq. Biasa dipanggil Coach Ari. Orang yang pertama kali mengenalkan Saya dengan dunia English Debate ini.

Dia adalah teman main salah satu debating expert yang dimiliki oleh Indonesia.
Yang menarik dari gaya kepelatihan orang ini adalah stylenya yang super sadis.

Seperti biasa, kita berlatih di ruangan kelas, hanya di saksikan kami-kami saja..
Suatu ketika salah seorang Coachee yang mengeluhkan ia sering nge-blank atau kehilangan ide karena grogi diliatin teman-temannya.

Coach Ari ini langsung menghentikan latihannya sejenak..
“Ada berapa orang yg punya problem kaya si Mawar?”

Dua orang lagi mengangkat tangan

Okay kita break makan dulu ya.. makan di foodcourt Mall sebelah ya.

Asyiikk..semua kegirangan

Semua menikmati momen kebersamaan ditengah keramaian.

Sampai akhirnya kita semua selesai makan..

“Udah selesai makan guys…
Gak usah balik kampus dulu..
Kita lanjut latihan disini ya… Mawar, Melati, Pelangi.. gantian speech berdiri disini 7 menit tanpa putus..
Pake tema yg kita pelajari tadi
Teriak yang kenceng ya..bising soalnya”

Apa gak keringat dingin 3 orang itu..

Di kelas aja gemeter… Ini speech di tengah kerumunan Foodcourt..teriak-teriak semua orang liatin

Gila ini orang pikir Saya..

Saya liat 3 orang ini pengen nangis

Kasihan juga Saya.. tapi sy diemin aja..

Dengan super gemeteran akhirnya satu persatu 3 orang ini speech didepan umum secara bergantian.

Sepertinya mereka mau pingsan.. tapi karena barengan..rasa malu mereka masih tertutupi.

Ahh..ada temennya.
Nervous mereka tutupi dengan suara kencang. Meskipun tetep kedengeran juga.

Selesai mereka speech si Coach ketawa puas..
Ha ha..
Gilaa memang orang ini.

Dan ternyata treatment tadi efektif bikin mereka yg awalnya speech gemeteran jadi biasa aja dan relax…
Mereka udah gak gemeteran lagi ngomong di tempat ramai.

Kenapa? Karena tensinya jauh menurun.
Ngomong di kelas gak ada apa-apanya malunya dibanding ngomong di tengah foodcourt yang rame.

Karena tekanannya jauh menurun mereka jadi jauh lebih percaya diri

Mode deliberate training yg digeser adalah ‘limit tensi’ nya yg digeser secara bertahap dijaga agar selalu diluar comfort zone

Dijaga agar tetap “menyakitkan” tapi itu “menyenangkan”

Semoga apa yg Sy share ini bermanfaat ya

Kedepannya jangan mau kalo ada training mahal tapi tugas kurang “brutal” he he

So semuanya dikembalikan lagi ke kita. Apakah ketika belajar sesuatu hanya sekedar belajar atau benar-benar menguasainya seperti seorang EXPERT.

Menjadi amatir itu butuh waktu lebih lama.
Menjadi EXPERT itu terukur waktunya.

Semoga apa yang Saya sampaikan bermanfaat.

Salam Nginbound

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security