Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

AADG – ADA APA DENGAN GDPR?

5 min read

AADG – ADA APA DENGAN GDPR?

Apa itu GDPR?

Pertengahan bulan Agustus 2018 kemarin,
saya memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas pelatihan di daerah Kuningan Jakarta.
Trainingnya hanya dua hari, tapi kami harus merogoh investasi training seharga motor matik baru. Karena Saya yakin ini materi penting banget buat nasib bisnis Saya kedepannya yang banyak bergelut dengan data pelannggan.

Disatu sisi masih sedikit literasi yang bahas topik ini, terutama di Indonesia. Makanya Saya bela-belain datang jauh-jauh dari Malang untuk duduk manis menyimak pengajar asal Malaysia yang kebetulan pas di Indonesia di sela-sela beliau mondar-mandir kantor London dan US.

Terus gimana kesannya setelah mempelajari materi ini?
Beneran pentingkah?
Atau buang-buang duit? 😀

Kesan Saya setelah mengambil training ini adalah sama sekali gak rugi mengambil materi training ini.
Kemarin mikirnya, ini pengetahuan kayanya penting banget di pelajari.. nice to know lah.
Setelah kelas usai langsung berpikir, untung banget Saya bisa belajar lebih awal pelatihan ini.
Kalau saja Saya belajarnya telat sedikit saja, bisa dipastikan potensi kebangkrutan siap menerkam kapan aja begitu “aturan baru ini” ini diimplementasikan.

Gilaaa !!!

Aturan apaan sih, koq segitu mengerikan dampaknya.
Eh ini saya gak sedang menggertak yaaa…
Apa yang Saya sampaikan ini bener-bener aturan yang jika kita melanggar, maka dendanya bisa bikin bangkrut bisnis kita saat itu juga.
Dunia mengenal momok itu sebagai GDPR yang merupakan singkatan dari General Data Protection Regulation.

Yang paling bikin males adalah, aturan ini sudah efektif dijalankan per Mei 2018.
Loh itu sudah jalan dong? Bener, itu sudah jalan per Mei 2018 lalu, dan entitas-entitas bisnis dan pemerintahan di seluruh dunia hanya diberi waktu sampai dengan akhir tahun 2018 kemarin untuk menyesuikan dengan hal-hal yang sudah diregulasikan dengan GDPR.

Kalem Mas Broo..
GDPR itu makanan jenis apa?
Sejenis jajanan seperti bakso beranak kuntil kah, atau semacam mie setan gitu sampai bikin orang pada gemeteran? 😀

GDPR adalah regulasi yang dibuat sebagai standar sekaligus memperkuat perlindungan data untuk penduduk Uni Eropa.

Mas-mas…. sampean itu gimana?
Itu kan buat orang-orang Eropa, apa hubungannya dengan orang diluar Eropa?
apa lagi Indonesia yang nan jauh disana.

Jangan salah, meskipun standar kebijakan proteksi data ini untuk orang-orang Uni Eropa, tapi dampaknya bisa keseluruh dunia, termasuk Indonesia.
Ini artinya dalam implementasinya bisnis kita akan kena dampaknya.
Karena GDPR bukan hanya berlaku baik untuk Data Controller (Pengendali Data), dan juga Data Processor (Pemroses Data).

Maksudnya gimana? Bisa jadi perusahaan kita memang berada di Indonesia.
Namun kita kedatangan pengunjung di web kita orang-orang Uni Eropa.
Kemudian tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari kita, dengan enaknya kita melacak setiap aktivitas mereka lewat cookies yang ada di browser mereka.
Data ini kemudian kita proses sedemikian rupa, baik kita proses sendiri maupun melibatkan bantuan pihak ketiga untuk keperluan marketing (market profiling).

Kemudian kita melakukan aktivitas marketing retargeting dengan menawari mereka e-book gratis yang berhubungan dengan produk kita.

Apa Itu GDPR?

Dan apesnya, ketika mereka tidak terima dan mengirimkan screen capture penawaran kita, jika terbukti bersalah maka kita akan dikenakan denda sebesar 20 Juta Euro atau senilai atau sekitar 330 milyar rupiah.
Buat bisnis berskala besar sekalipun denda sebesar ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi sebuah bisnis.
Apalagi bisnis skala menengah dan kecil, mereka bisa gulung tikar saat itu juga.

Meskipun Indonesia belum memplokamirkan sebagai negara yang GDPR Compliance, atau negara yang sudah menetapkan GDPR, namun tetap saja kita harus antisipasi dampak dari implementasi GDPR ini jauh-jauh hari.
Jangan sampe hanya karena ketidak tahuan kita, kita jadi kerepotan dengan sendirinya. GDPR ini menyangkut ke semua aspek, terutama terhadap TRUST atau kepercayaan customers terhadap bisnis kita.

Bisnis-bisnis yang ada didunia sekarang sedang berbenah untuk menyesuaikan dengan aturan ini. Budget 1 juta USD mereka alokasikan untuk berbenah agar sistem mereka dalam mengolah data-data pelanggan harus memenuhi data perlindungan pelanggan sesuai standar GDPR.
Kenapa mereka harus bela-belain?
Karena mereka tak ingin melewatkan potensi pasar Uni Eropa.

Terlepas dari itu, jika tidak mengantongi pengakuan kepatuhan terhadap aturan ini (GDPR compliance), maka data-data pelanggan yang ada di teritori Uni Eropa tidak akan pernah mereka transfer ke sebuah bisnis dimana negaranya belum menerapkan aturan ini. Pastinya akan banyak transaksi akan terhambat.

Apa sih maunya orang-orang Uni Eropa dengan aturan ini, koq sepertinya mereka bikin bisnis makin ruwet aja?!

Tergantung sudut pandang kita sebenarnya.
Selama ini kita sendiri gak sadar, data kita dieksploitasi dengan tanpa ‘batas’ oleh marketer.
Data kita diolah seenaknya, di profiling seenaknya, kemudian data kita dijual ke pihak ketiga sebagai TARGETED AUDIENCES atau kita juali sendiri.

Karena Saya sendiri juga begitu.
Entah saya mengolahnya manual, atau secara otomatis,
Saya juga memproses data-data pelanggan yang masuk menjadi LEADS atau prospek Saya.
Ini sudah jadi makanan sehari-harinya digital marketer lah.
Semakin banyak volume data yang kita pegang, semakin cerdas kita memasaknya, maka semakin digdaya kita sebagai marketer.

Namun adagium atau pepatah bijaknya marketer itu sudah mulai diruntuhkan.

Semakin besar volume data yang kita pegang, semakin lama kita menggenggamnya, maka semakin besar potensi bisnis kita akan diruntuhkan.

Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah?
Adakah bisnis di era digital seperti saat ini yang tidak menggenggam data target market? Tidak mengolah data mereka?
Tidak melakukan profiling?
Tidak melakukan targeting-retargeting?
Kalaupun ada, itu adalah perusahaan gaptek. Alasan mereka tidak melakukan hal itu bukan karena sadar akan pentingnya memproteksi data pelanggan untuk melindungi privasi mereka.
Karena mereka belum bisa melakukan pengolahan sendiri.
Akhirnya mereka minta bantuan dari pihak ketiga untuk masak data tersebut, dan memilih terima data matangnya.

Sebenarnya kita harus mulai pasang alarm ketika banyak sekali investasi asing datang berdatangan ke startup Indonesia.

Apa Itu GDPR?

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Tercatat 4,8 miliar USD sudah digelontorkan ke startup di Indonesia per 2017 kemarin saja.
Itu setara 68 trilyun rupiah menggunakan kurs hari ini. Indonesia adalah periuk besar dunia e-commerce dunia.

Potensi dunia e-commerce Indonesia menurut Ketua Bidang Edukasi Retail Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Mohamad Rosihan sesuai roadmap pemerintah adalah sebesar Rp 1700 trilyun hingga 2020 nanti.

Namun selain potensi market yang sangat besar, yang menjadi kan negara Asia Tenggara khususnya Indonesia menjadi lumbung investasi adalah karena masih longgarnya regulasi perlindungan data konsumen di Indonesia.

Raksasa sekelas Facebook dan Google pun yang mati kutu di Eropa, mau gak mau sekarang harus mengalihkan investasinya ke negara ini. Peraturan tentang Data Processing dan Controlling disini masih belum seketat Uni Eropa.
Jadi mereka masih bisa leluasa menawarkan iklan dari hasil mengolah data pelanggan.

Kondisi ini bisa menjadi pisau bermata dua.
Disatu sisi hal ini baik buat bisnis kita karena kelambatan negara kita mengadopsi GDPR artinya kita masih bisa leluasa mengolah dan menahan data pelanggan sesuka kita.
Disisi yang lain rasa was-was itu akan terus ada dan menghantui kalau-kalau GDPR itu benar-benar diadopsi dan diimplementasikan, akan berdampak besar terhadap keberlangsungan bisnis kita.

Pertanyaannya adalah?

  1. Siapkah bisnis kita nanti jika GDPR ini benar-benar diterapkan?
  2. Kedua sudahkah kita memiliki rencana marketing cadangan jika memang aturan pengolahan data pelanggan di perketat untuk menyesuaikan dengan standar GDPR?

Inilah suatu masa ketika Strategi Inbound Marketing benar-benar menjadi pilihan utama dibandingkan dengan strategi digital marketing yang sudah ada sekarang.

Apa Itu GDPR?

Katakanlah jika semua aturan GDPR itu diadopsi dan diterapkan di Indonesia, tidak akan berpengaruh banyak ke berjalannya taktik-taktik marketing yang menjadi bagian dari tahapan Inbound.

Kenapa? Karena secara filosofi dasarnya, Inbound marketing itu sudah GDPR friendly atau selaras dengan spirit GDPR yang sangat menghormati privasi data pelanggan. Dengan kata lain, tanpa harus mengolah data pelanggan sekalipun, strategi ini bisa berjalan seperti biasa.

Hal ini dikarenakan Inbound Marketing adalah strategi yang memfokuskan diri pada bagaimana cara agar produk atau layanan kita bisa ditemukan pelanggan.

Inbound adalah tentang “the art of being found” atau seni agar kita bisa ditemukan dengan mudah. Caranya dengan mengandalkan kekuatan konten untuk membangun relasi dengan pelanggan.

Filosofi Inbound marketing itu sendiri mengadopsi prinsip dari Permissive Marketing yang diperkenalkan oleh Seth Godin. Artinya, jika Inbound Marketing sampai mengolah data pelangganpun, itu juga berdasarkan “consent” atau ijin dari pelanggan.

Normalnya mereka menjadi permisif dan rela memberikan ijin kepada marketer karena merasakan value yang luar biasa dari konten-konten yang disajikan oleh sang Inbound Marketer.
Mereka sendiri yang meminta untuk terus dikirim update terbaru konten-konten bermanfaat yang disajikan.

Sangat berbeda dengan digital marketing konvensional yang menganut filosofi Outbound Marketing, dimana mereka yang aktif memburu target market yang lolos kriteria profiling mereka.
Kirim ebook, kirim newsletter, bahkan kirim iklan jualan kepada orang yang tidak berkenan untuk menerimanya.
Marketing profile, retargeting, remarketing entah itu menggunakan Google Ads, Facebook Ads, Instagram Ads dan platform apapun jika dia berangkat dengan mengolah data pelanggan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan mereka akan menjadi sasaran empuk regulasi GDPR.

Jadi nanti kedepannya pilihannya hanya ada dua:

  1. Marketing tanpa didahului pengolahan data pelanggan, hanya mengandalkan penempatan materi-materi iklan ditempat strategis, yang tentu saja akan berbiaya mahal.
  2. Atau pilihan yang kedua, mengandalkan kecerdasan dan kreativitas, menyusun konten-konten berkualitas untuk mengundang target market datang sendiri menghampiri kita.

Raksasa sekelas Facebook dan Google pun sudah merasakan pengalaman pahitnya berurusan dengan regulator Uni Eropa.
Jadi jangan mengherankan jika mereka berdua sekarang sudah sangat berhati-hati sejak GDPR diterapkan.
Tampilan user interface pun sekarang sudah berubah baik Facebook dan Google ketika kita mengaksesnya langsung dengan mode VPN negara-negara Uni Eropa.
Sudah relatif lebih ‘bersih’ jika dibandingkan dengan tampilan Google dan Facebook seperti di Indonesia yang ramai akan iklan disana-sini.

Mumpung waktunya masih cukup untuk berbenah, apa salahnya jika kita mengaudit ulang strategi marketing kita untuk jangka panjang. Untuk langkah pencegahan dan berjaga-jaga.

Perkuat kaki-kaki marketing kita. Jadi kalaupun bisnis kita harus menyesuaikan dengan regulasi tersebut, sama sekali tidak menjadi masalah buat bisnis kita kedepannya.

Magic Tricks (SMT) dan Inbound Marketing Focus (IMF)

Mari kita siapkan dari sekarang.

Salam Nginbound!

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security

Warning: include_once(/home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache-premium/pro/library/lazy-load.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache/inc/cache.php on line 763

Warning: include_once(): Failed opening '/home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache-premium/pro/library/lazy-load.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php70/root/usr/share/pear') in /home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache/inc/cache.php on line 763

Fatal error: Uncaught Error: Call to a member function lazy_load() on null in /home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache/inc/cache.php:766 Stack trace: #0 [internal function]: WpFastestCacheCreateCache->callback('<!DOCTYPE html>...', 9) #1 /home/imlifeco/nginbound.com/wp-includes/functions.php(4344): ob_end_flush() #2 /home/imlifeco/nginbound.com/wp-includes/class-wp-hook.php(286): wp_ob_end_flush_all('') #3 /home/imlifeco/nginbound.com/wp-includes/class-wp-hook.php(310): WP_Hook->apply_filters(NULL, Array) #4 /home/imlifeco/nginbound.com/wp-includes/plugin.php(465): WP_Hook->do_action(Array) #5 /home/imlifeco/nginbound.com/wp-includes/load.php(954): do_action('shutdown') #6 [internal function]: shutdown_action_hook() #7 {main} thrown in /home/imlifeco/nginbound.com/wp-content/plugins/wp-fastest-cache/inc/cache.php on line 766