Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

MENURUT RISET, KENAPA BANYAK PERUSAHAAN YANG GAGAL?

2 min read

Apa yang menjadi alasan perusahaan rintisan atau start up banyak yang gagal, berujung pada kebangkrutan?

 

 

Disini kita akan menemukan jawaban teratas NO MARKET NEED atau tidak ada demand.

Ini ada 20 alasan teratas. Dulu Saya juga pernah menulis data pembanding dari peneliti yang berbeda, bedanya hasil nomer satunya adalah TIMING.
Koq beda??
Tidak, semuanya sama.

Waktu yang tepat startup itu hadir adalah ketika jelas-jelas ada sinyal DEMAND yang kuat dari pasar.

Namanya sinyal memang ada yang kuat, ada yang lemah.
Jika sinyal nya kuat, sangat jelas solusi apa yang dibutuhkan ya tinggal bikin produknya.

Disatu sisi sinyalnya tidak terlalu kuat, tapi kita melihat ada problem yang ada di pasar, cuma pasar belum sadar problem tersebut. Masih ada dua tahapan yang harus kita lakukan.

Pertama kita harus memvalidasi sinyal tersebut, benarkah “problem” itu memang ada di market? Seberapa urgent problem tersebut untuk diselesaikan?
Ini perlu kita validasi dulu. Perkuat datanya dengan survey. Kita gali dulu solusi apa yang kira-kira dibutuhkan pasar untuk mengatakan problem tersebut. Ini yang dinamakan proses Problem-Solution Fit.

Jika solusinya sudah kita dapatkan, baru beranjak ke step berikutnya.. bikin produknya.
Setelah produknya jadi, maka proses selanjutnya adalah melakukan Product Market Fit. Caranya kita uji cobakan produk ini pada sekelompok kecil orang yang membutuhkan produk tersebut.

Apakah produknya sudah pas?
Gali terus masukan-masukan dari kelompok kecil ini. Ketika kita sudah sukses menaklukkan kelompok kecil ini, maka baru boleh berpikir tentang “Scalability”
Boleh mikir tentang scale up, jika dan hanya jika produk yang mereka buat sudah tepat seperti yang diinginkan oleh pasar.

Balik lagi, kenapa banyak perusahaan gagal?
Banyak perusahaan yang belum melewati fase “Product Market Fit”, belum bisa membuat produknya memuaskan pasar, tapi memaksa untuk scale up.

Produksi massif untuk mengejar economies of scale, channel distribusi dibuka dimana-mana, produk dengan cepat tersebar ke pasar.
Tetapi yang jadi masalah, yang meluncur ke pasar adalah product “cacat”, produk yang belum sempurna, masih butuh banyak perbaikan.

Akibatnya adalah ketidakpuasan yang tersebar ke pasar.
Siapakah korbannya? Tentu saja BRAND dan reputasi perusahaan kita.

Oohh.. ini perusahaan X yang bikin barang itu..

Yang bikin keadaan semakin parah adalah, ketika produsen merasa penyerapan pasar terhadap produk tersebut sangat rendah mereka memanipulasinya dengan marketing.

Jadilah iklan-iklan bombastis disebar dimana-mana, bahasa bahasa promo yang over promise tapi under deliver. Menjanjikan banyak hal, tapi sedikit sekali value yang bisa diberikan oleh produk tersebut.

Model marketing seperti ini yang berat di ongkos, mengeluarkan banyak duit untuk memoles barang yang gak bagus. Bayar influencer mahal biar meyakinkan, bayar advertorial dan fake produk review dll.
Tapi tetap saja, hal-hal seperti ini tidak akan bertahan lama koq.

Lebih baik balik lagi ke produk. Pikirkan bagaimana produk yang kita buat bisa benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya ke segmen pasar yang kita garap.

Produk yang benar-benar bagus itu bisa menjual produk itu sendiri. Gak perlu marketing yang melintir-melintir pasar akan datang dengan sendirinya.


itu juga yang menjadi alasan kenapa Tesla terkenal dengan ZERO MARKETING STRATEGY nya. Departemen marketingnya adalah departemen Research and Developmentnya. Karena mereka fokus bikin produk yang bisa menjual produk itu sendiri.

Marketing itu gunanya untuk menyelamatkan produk bagus dari persepsi yang tidak bagus oleh pasar. Membentuk dan mengembalikan persepsi pasar pada yang seharusnya.
Bukan memanipulasi dan membohongi pasar.

Makanya dikelas business storytelling, Saya menyampaikan.. 
Prinsip utama storytelling yang gak bisa dilanggar adalah.. “Storytelling never contradict it self”
Artinya tidak pernah ada ceritanya storytelling yang sukses itu menceritakan sesuatu dengan membagus-baguskan tetapi kenyataannya sebaliknya.

Storytelling membuat yang cantik menjadi lebih terpancar aura cantiknya.
Membuat kuliner yang memang enak jadi lebih bersemangat lagi menyantapnya.

Bukan dari yang buruk rupa tiba-tiba menjadi cantik. Atau yang ga enak ditampakkan seolah-olah enak.

Karena ujungnya customers experience lah yang nantinya akan menentukan. Pengalaman pelanggan terhadap produk dan layanan kitalah yang akan menjadi penentu, berhasil atau tidaknya semua rangkaian promo yang kita buat.

Jadi jangan pernah lelah untuk mengukur bagaimana kepuasan pelanggan ketika menggunakan produk kita.

Karena alasan pertama perusahaan gagal adalah, mereka memproduksi produk gagal, tapi tidak kunjung memperbaikinya.

Semoga bermanfaat

 

Salam Nginbound

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security