Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Ketika Gelombang Disrupsi Digital Datang Terlampau Cepat

3 min read

Tepat setahun yang lalu, sehari sebelum hadir di event tahunan serikat muda se Asia Pasifik (UNIAPRO Youth) yang dihelat di Kuala Lumpur Malaysia, diperjalanan sebelum briefing di Jakarta Saya menemukan hamparan ribuan armada taxi yang siap jual lengkap dengan label lelangnya.

Dibaliknya tentu saja ada ribuan kepala rumah tangga yang siap kehilangan pekerjaan karena dirumahkan. Fenomena ini Saya angkat dan jadikan bahan presentasi di forum antar negara ini.

Ini adalah sedikit konsekuensi pahit atas kekalahan yang harus dibayar ketika sebuah perusahaan memaksa melawan gempuran teknologi digital. Teknologi yang disruptif memang susah sekali dibendung. Jika kita tidak bisa merangkul, maka mau tidak mau kita harus segera menentukan strategi baru untuk mengimbangi nya. Jika kita hanya nekad melawan tanpa berbenah, siap-siap aja babak belur dan tersingkir dari gelanggang.

Meskipun arah sudah benar, terlambat gerak juga menimbulkan masalah.

Ada tanggapan menarik dari negara tetangga yang juga mengalami hal yang sama dengan kita, namun friksi dan dampaknya tidak separah di negara kita.

Pemerintah Malaysia dan Singapura DARI AWAL sudah mengantisipasi serbuan taksi online dengan meleburkan perusahaan-perusahaan taksi tersebut menjadi bagian dari pertumbuhan taksi online ini.

Singapura adalah rumahnya Grab, jadi wajar jika sekali jika mereka mendukung keberadaan Grab. Apalagi jika aplikasi ini mampu mencengkeramkan aplikasinya ke banyak negara. Akan menyumbang pundi-pundi juga buat pemerintah Singapur.

Di Indonesia memang tidak semulus di dua negara tadi.Indonesia sempat melakukan perlawanan yang dipimpin oleh si Burung Biru, meskipun akhirnya mereka ‘sahabatan’ juga akhirnya. Gimana gak mau sahabatan wong market value si Gojek akhirnya mampu meng-empritkan si Biru.

Si putih Express awalnya mencoba menjaga idealismenya dengan terus bertahan sebagai penantang terhadap gempuran taksi online. Mungkin ketika melihat si Biru mulai melebur dengan si Gojek, akan ada tahta kosong yang ditinggalkan si incumbent. Karena selama ini mereka selalu menjadi yang kedua, bagus dong ketika nanti bisa jadi yang pertama.

Namun nasib berkata lain. Mau gak mau Si putih yang kekeh dengan idealisme nya dengan tetap melawan arus. Dan ia sepertinya mulai goyah. Armada mulai dilego dan karyawan mulai dirumahkan.

Express sebenarnya sudah berkolaborasi dengan UberX untuk melebur dengan taxi online Februari 2017. Namun entah terlambat atau gempuran digital yang terlalu kuat okupansi nya semakin menurun dari 55% ke 45%. Revenue nya juga terus menukik tajam sampai hanya 158,73M an. Bandingkan dengan setahun sebelumnya yang masih 374,06M an setahun.

Begerak dalam arah yang tepat namun terlambat dampaknya juga masih tetap terasa. Masih di forum yang sama Christopher Ng, SekJen Serikat Pekerja Asia Pasifik, saat itu juga menanggapi keresahan yang Saya utarakan. Memang mau tak mau kita harus cepat beradaptasi dengan hal-hal seperti ini dengan kecepatan dan ketepatan. Jika memang salah ya cepat dibenahi.

Di Jepang sendiri, yang menjadi rumahnya teknologi dan inovasi, perusahaan-perusahaan besar juga mengalami masalah dengan hal ini.

Sebagai contoh agen-agen asuransi sudah mulai tergantikan oleh mesin-mesin dengan kecerdasan buatan. Peran pengacara juga mulai tegeser, karena robot memiliki kemampuan menganalisa kasus, mengingat dan mencari pasal jauh lebih cepat dan akurat dari manusia. Dokter juga mulai tergantikan dengan mesin-mesin cerdas yang mampu mengidentifikasi penyakit hanya sepersekian detik, dengan akurasi yang makin tahun makin meningkat.Beliau juga menyampaikan problem serupa dengan konteks yang sedikit berbeda.

Negara-negara Asia seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, China, India dan Bangladesh yang saat ini masih berebut menjadi surganya tenaga kerja murah demi menarik investasi kedepannya semua terancam gigit jari. Karena biaya produksi di negara Eropa seperti German akan menjadi lebih murah dengan teknologi 3D printing yang makin hari akan makin murah.

Dan yang semakin memperburuk keadaan adalah tahun kedatangan teknologi-teknologi supercanggih ini lebih cepat dari yang diprediksikan. Kalo katanya Jeff Loucks dkk di buku Digital Vortex nya, nantinya semua industri memang akan terombak total ketika sudah terseret dalam pusaran yang namanya Pusaran Digital. Disini industri-industri akan terdefinisikan dalam bentuk mereka yang baru.

Masalah Digital Vortex ini ada porsi ulasannya di buku Digital Mastery nya Pak Priyantono Rudito dan Pak Mardi Sinaga yang keren abis.Masalahnya memang secara hitungan bisnis, biaya menggunakan mesin dari sisi skala ekonomis jelas lebih reasonable.

Mesin juga tidak banyak protes dan nuntut seperti manusia.Bisa dibayangkan betapa pusingnya serikat pekerja membendung aksi PHK super massal sebagai imbas kemajuan teknologi. Digital teknologi dan semua ekosistem yang dibawa nya seperti layaknya pedang bermata dua.

Disatu sisi ia akan memakan banyak korban dari tenaga kerja yang tergantikan, namun disisi lain tidak bisa kehadirannya bisa sangat positif terutama dari sisi efisiensi.

Permasalahan terbesar bagi perusahaan-perusahaan memang mereka terlalu banyak menghabiskan waktu mereka di kuadran URGENT and IMPORTANT. Hanya berpikir tentang bagaimana produk mereka laku. Bagaimana target penjualan mereka terpenuhi, bagaimana menjega kompetitor dan hal-hal lain yang memaksa mereka mengambil langkah sekarang juga. Sampai tak tersisa waktu menyadari gelombang disrupsi yang makin mendekat.

Mereka lupa menyisakan waktu untuk merenung dan menyusun kembali strategi di kuadran IMPORTANT but NOT URGENT. Ruangan dimana masih cukup waktu memikirkan dan mengantisipasi terjangan teknologi. Tentang apa langkah mereka kedepannya jika badai yang mereka takutkan benar-benar datang. Masih cukupkah waktu untuk berbenah dan berinovasi. Atau hanya pasrah sambil mengibarkan bendera putih.

Sang Maha Guru Manajemen, Peter Drucker jauh-jauh hari sudah memberikan catatan. Sebuah bisnis untuk terus bisa berjalan minimal harus fokus pada dua hal yang paling mendasar. Pertama MARKETING, berikutnya adalah INOVASI. Dan menariknya dua-duanya ada di kuadran IMPORTANT but NOT URGENT. Sangat logis karena hanya dari ruangan ini evaluasi dan perencanaan bisa dilakukan dengan ‘nyaman’ bukan asal-asalan.

Mari kita sama-sama instropeksi, di kuadran manakah porsi bisnis kita lebih banyak menghabiskan resource nya?Karena dari situ akan menentukan dimana posisi kita berikutnya, sebagai korban, atau sebagai aktor penggeraknya.

Sesuatu yang sifatnya repetitif, proses berulang dan sudah terdefinisi dengan jelas sudah semestinya tergantikan dengan teknologi. Agar kita lebih fokus untuk pekerjaan dengan value yang lebih tinggi.

Salam,
Saiful Islam

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security