Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Mengkombinasikan Brand Marketing dan Direct Response Marketing

6 min read

Mengkombinasikan Brand Marketing dan Direct Response Marketing

Ada hal yang cukup mengejutkan ketika beberapa hari ini blusukan ke grup WA.. Hari pertama Saya share tentang DIGITAL CROWD dan Strategi menarik perhatian ditengah kerumunan. Hari kedua Saya share tentang LEAD Magnet Desain, atau bagaimana cara pasang umpan dengan teknik Brand Generosity.

Sebelum memulai sesi ke-3 saya buka sesi tanya jawab..
Pak Saiful ada yang mau nanya nih..
Ok silahkan..

Begini Pak.. Saya kan sudah lama jualan.. tapi kenapa sampe sekarang masih susah laku ya Pak? Apa memang sesusah itu ya Pak dunia internet marketing? Saya sdh putus asa nih Pak.

Saya penasaran, sudah berapa lama Bund mulai bisnis online?
Satu minggu Pak.. Saya kira internet marketing itu tinggal upload gambar-gambar produk, yang sudah dikasih harga coret langsung bisa laku. Ini saya tungguin seminggu gak ada yang laku satupun.. Ini foto dagangan Saya satupun gak ada yang nge like..

Jujur Saya langsung shocked..hape 6 inch ditangan hampir aja ketelen.

Bayangin Pak.. Saya start belajar marketing mulai tahun 2006. Sudah 11 tahun belajar marketing jual barang belum laku kadang masih buka buku lagi belajar lagi. Coba lagi eksekusi lagi..
Tak cukup A/B testing..A, B, C, D, E testing juga dijabanin..
Gituu terus sampe nemu cara yang paling nendang..

Lhah ini baru seminggu barang kagak laku sudah mengeluhkan kerasnya dunia internet marketing. Butuh PROSES untuk menjadi seorang internet marketer dan hanya mereka yang setia dg proses dan disiplin melakukan improvement yang bisa berhasil.

Jika cukup dengan posting gambar di sosmed terus orderan berdatangan.. Artinya bisnis kita jika seperti itu ada pondasi yang sangat lemah.

Kenapa?
Ya karena terlalu gampang diduplikasi. Jangankan kita yang udah biasa bersosial media. Anak-anak SD yang belum sunat sudah manggil mama-papa itu juga bisa lah..

Kalo bisnis gampang di duplikasi dan semua orang melakukan hal yang sama dan berhasil.. Awalnya berhasil..namun begitu banyak orang pake.. Udah gak sakti lagi. Padahal produksi udah gede-gedean, barang numpuk digudang dll.

Kalo pinjem ilmunya PARETO.. Hanya 20% yang berhasil dalam prosesnya dan mampu menguasi dan mendominasi pasar. Faktanya bisa lebih parah dan ironis lagi.

Menurut penelitian yang dilakukan Oxfam di awal 2017 kemarin, faktanya 1% orang terkaya didunia menguasai lebih dari 50% dari seluruh kekayaan dunia. Di jaman now..siapa yang dominan akan makin mendominasi dan mereka yang terpuruk akan makin terpuruk. Istilahnya WINNER TAKES ALL..

Kembali ke case dari OL Shopper yang langsung mutung karena barangnya 1 minggu belum ada yang beli..

Pertama kita harus memiliki cara pandang yang benar dulu tentang marketing. Jangan-jangan kita memandang sesuatu dg cara yang salah sehingga tidak bisa memanage expektasi dengan tepat.

Karena terbiasa lihat orang nanem cambah bisa panen dalam hitungan hari.. Kita merasa gagal ketika mendapati apa yang dia tanam belum menghasilkan dalam waktu 1 bulan. Padahal ia sedang nanem pohon jati.

Marketing Guru Dunia, Seth Godin mengkategorikan 2 jenis aktivitas dalam marketing berdasarkan tujuan dan dampaknya.

  • Ada aktivitas Marketing yang dikategorikan sebagai BRAND MARKETING (BM)
  • Ada aktivitas Marketing yang ditujukan sebagai DIRECT RESPONSE MARKETING (DRM)

Dua-duanya sama pentingnya. Namun ibarat obat aturan pemakaian harus diperhatikan..

Mengkombinasikan Brand Marketing dan Direct Response Marketing

Brand Marketing (BM) ini ibarat vitamin atau nutrisi. Dikonsumsi tiap haripun tidak akan ada masalah. Anda makan sayur, buah, olahraga teratur..multivitamin..tujuannya memang untuk sehat dan bugar dalam jangka panjang.

Sedangkan DRM pemakaiannya harus ikut aturan pakai. Dampaknya memang bisa dirasakan langsung..tapi jika dipakai terus-terusan maka malah akan merusak kesehatan penggunanya. Sebut saja stamina booster, obat kuat dll.

Kita kembalikan lagi ke konteks penggunaan tulisan untuk marketing. Dari niat penulisnya saat akan memulai tulisannya sebenarnya sudah kebaca, apakah ia akan melakukannya untuk BM atau DRM.

Menulis untuk BM artinya ia memang concern memberi VALUE ke audiens nya untuk menumbuhkan Brand Produknya, Corporate Brand nya dan bahkan ownernya dengan orientasi jangka panjang. Dampaknya memang tidak bisa dirasakan langsung di penjualan bahkan ngukurnya lebih susah karena banyak sekali variabel-variabel yang dilibatkan.

Tulisan-tulisan Coach Indrawan, Saya ataupun siapa saja yang menulis di grup ini tanpa ada label atau link jualan secara langsung pada dasarnya masuk kategori tipe ini.

Sedangakan tulisan-tulisan yang dikategorikan untuk DRM ditujukan memenuhi target-target marketing jangka pendek yang dari awal sudah ditetapkan. Entah itu untuk naikin angka Visitors dari Strangers, Leads dari Visitors atau Customers dari Leads dan bahkan Return on Marketing Investment..

Dari ngiklan lewat tulisan ini gue dapat berapa ya. Pada prakteknya ilmu-ilmu Copywriting..Hypnowriting.. Softselling..bahkan hard selling masuk DRM.

Saran Saya jangan terlalu sering sering menggunakan teknik-teknik ini diluar dosis.. Semakin sering digunakan maka semakin gampang audiens mengenali dan membaca triknya..

Yahhh.. Harga Coret nih dipake..
Yahh.. Authority nih dimainkan..
Yahh Scarcity nih…

Gimana gak kebaca kalo makenya udah overdosis. Akibatnya ketika merasa jurus-jurusnya tidak sakti dan efektif lagi, akan sibuk mencari teknik-teknik yang lain atau target-target market yang baru yang belum ngeh dengan trik model gini.

Di jaman now.. Writing atau tulisan-tulisan yang memang ditujukan untuk Brand Marketing harusnya dikasih porsi lebih. Kalo kita belajar menulis untuk Brand Marketing orientasinya sudah beda..bukan hanya terpaku pada angka-angka jangka pendek semata.

Namun lebih kearah Bagaimana dengan tulisan kita bisa memberikan VALUE atau Manfaat sebesar-besarnya buat audiens atau pembacanya. Bukan sekedar produk cepet kejual.

Tapi percayalah.. Semakin bagus kita bikin tulisan Brand Marketing, semakin besar VALUE atau manfaat yang bisa dirasakan oleh audiens.. akan berkekuatan mendongkrak Direct Response Marketing Anda, dibanding yang hanya berorientasi DRM aja.

Saya kasih gambaran dua kasus sederhana. Bandingkan nih ada 2 orang.. Sebut saja Mawar dan Melati..bukan nama sebenarnya Masing-masing nulis 4x dalam 1 bulan..

Mawar menulis dengan komposisi 3x BM ditutup dengan 1xDRM..
Artinya..
Kasih Value.. (GIVE)
Kasih Value.. (GIVE)
Kasih Value.. (GIVE)
Jualan.. (TAKE)

Melati menulis 4x dalam sebulan dengan komposisi semuanya DRM…Artinya..
Jualan.. (TAKE)
Jualan.. (TAKE)
Jualan.. (TAKE)
Jualan.. (TAKE)

Menurut teman-teman mana yang kira2 tulisan dengan total revenue nya yang lebih nendang?

Betul… MAWAR mestinya ketika jualan lebih nendang dampaknya. Dan teknik-teknik seperti ini yang digunakan oleh agency Inbound Marketing seperti HubSpot dan yang diajarkan pada klien-kliennya. Dari nilai perusahaan yang masih menghasilkan puluhan juta sebulan di th 2006 sampe menjadi 38 trilyun di th 2017 ini.

Kenapa Strategi Brand Marketing Lebih Efektif Dibanding Direct Response Marketing?

Ini sisi ilmiahnya.. Secara alamiah manusia akan membalas budi dari apa yang diterimanya.. Istilah ilmiahnya ini yang dinamakan RECIPROCITY.. Semakin banyak ia menerima kebaikan..maka secara natural ia akan punya keinginan gimana membalas kebaikan yang sdh ia terima.

Kalaupun si pemberi niatnya tanpa pamrih pun.. Tetap saja ia akan menerima balasannya secara indirect. Bisa saja audiens bilang ke teman or relasinya.. Eh beli ke si Mawar aja…baik banget orangnya.

Ini sudah hukum alam… Inilah prinsip prinsip BRAND GENEROSITY.. atau kemurah hatian sebuah BRAND. Prinsip ini mengajarkan kita untuk lebih banyak GIVE daripada TAKE.

Looh kan tekor Mas jadinya.. Kalau kita berpikir jangka pendek..memang seolah-olah rugi alias tekor. Tapi di era social mesia seperti jaman NOW ini kebaikan begitu cepatnya tersebar..

Social Media membuat sebuah informasi melesat begitu cepatnya. WORD OF MOUTH makin digdaya di era social media.. Eh..gue cari orang yang bisa improve marketing gue nih..ada rekomendasi ndak?

Dan kebetulan ia nanya nya di group yang isinya ratusan orang. Orang yang sering menerima kiriman kebaikan GIVE dari kita tiba-tiba nyeletuk.. Oooh itu aja pake si Mawar.. aq sering ngikuti postingan-postingannya..coba deh diskusi sama dia.

Kita masuk di era dimana pelipat gandaan informasi berjalan cepat sekali…bak sopir angkot yang ngebut pengen nyampe terminal karena kebelet…whuzzz

Si Mawar nya sendiri nyante2 di rumah nonton Pesbukers …
Ting..tiba2 ada SMS masuk…

Benar ini dengan Bu Mawar ya?

Iya..dengan Saya..

Bu ini saya Fani dari rumah makan padang sebelah.. Mohon maaf tadi rendangnya belum masuk itungan??

Ealaahh. 🙂

Nah ternyata masuknya via WA..

Bu Mawar mau nanya2 nih masalah marketing.. Ibu ada waktu…

Jika Anda banyak posting tentang Hijab.. Mengulas hijab.. Ada yang nanyain.. Bu mau konsul nih masalah Hijab..

Bu ini Saya mau konsul nih masalah innovation culture di perusahaan Saya. Dan lain-lain.

Apa yang bikin semua ini bisa jalan dengan sendirinya tanpa direncanakan..

Ya..VALUE-VALUE yang sudah Anda berikan lewat tulisan Anda.

Semakin kuat dan bagus tulisan Anda..dan semakin besar manfaat yang orang terima dari tulisan Anda.. maka akan semakin kuat pengaruh baliknya.

Kedua MERE EXPOSURE EFFECT..

Artinya audiens memiliki kecenderungan menyukai mereka yang sering ditemuinya. Berbeda dengan postingan iklan, postingan BM lebih banyak disukai karena memang banyak VALUE nya disana.

Artinya semakin meningkatnya frekuensi postingan Anda yang disukai, akan menciptkan lebih banyak momen interaksi antara Anda dengan audiens. Inilah yang menciptkan kedekatan antara Anda dengan audiens Anda. Bahkan setiap postingan Anda akan terus dinantikan.

Berbeda jika postingn Anda isinya jualan semua. Bukannya mereka mendekat..mereka bahkan minggir perlahan. Beruntung jika Anda tidak di block atau di unfriend.

Dan tidak mengherankan jika tahun 2011 NIKE menarik 40% budget marketing untuk dialihkan ke Marketing dengan genre BM. Muncullah Nike+, NikeFuelBand dan lain-lain.

Inilah alasan Saya lebih menyukai gedein BM ketimbang DRM..

BM dan DRM pada prakteknya bisa dikombinasikan. Yang penting polanya yang harus diperhatikan. Jangan sampe niat kita tulus ingin kasih value ke pelanggan ujungnya malah disalah artikan pelanngan.

Kalo formatnya 1 BM dan 1 DRM, 1 x GIVE diikuti 1 x TAKE kebacanya MODUS. Gak ikhlas kasihnya. hehehe..

Tapi kalo kebanyakan Brand Marketing gak ada Direct Response Marketing.. Kapan ngebulnya dapur Bang?

Saya kasih contoh orang yang BM nya ga ada matinya DRM 0 tapi makin moncer sampe sekarang. Majalah-majalah bisnis antri wawancara dia. Penerbit berebut nerbitin bukunya dia. Beliau adalah Seth Godin, bayangin dalam 5 tahun cuman absen 22 hari. Itu artinya dalam kurun waktu 1825 hari ia nulis 1803 postingan.

Gila banget nih orang Men. Kalo kita mah megap-megap kalo niruin nih orang. Gak layak kalo beliaunya jadi iconnya Brand Generosity.

Kalo kita mahh normal-normalan aja. BM iya DRM iya. Kalo dari pengalaman mengamati pola-pola Brand besar minimal 3 BM 1 DRM is OK.

Masing-masing Brand atau produk pasti punya pola tersendiri. Dan jangan takut melakukan eksperimen menemukan pola terbaik Anda.

Salam,
Saiful Islam

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security