Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Sudah Saatnya Pensiunkan Model Sales Funnel dan Mencoba Model Flywheel Inbound Marketing

5 min read

Sudah Saatnya Pensiunkan Model Sales Funnel dan Mencoba Model Flywheel Inbound Marketing

Beberapa hari ini saya posting tentang Inbound Flywheel. Dalam dunia digital marketing flywheel memang sudah disiapkan sebagai suksesor atau penerus funnel model.

Ada apa dengan funnel model? Ada yang salah dengan funnel model? Apakah sudah tidak menghasilkan?

Funnel model yang sudah puluhan tahun menemani sales dan marketing tiba-tiba menjadi topik pembicaraan hangat dalam dunia persilatan sales dan marketing dunia

Kenapa tiba-tiba diganti? Apa yang salah..

Bukan sesuatu yang tiba-tiba kalo funnel pada akhirnya dipensiunkan.

Karena ini adalah hasil dari proses pemikiran dan pencarian yang amat sangat Panjang.

Namun karena belum menemukan apa yang lebih baik dan bisa memperbaiki lubang besar di funnel, maka makin semaraklah flywheel model ini.

Ada yang baru kenal Funnel?

Yang baru belajar sales dan marketing bisa jadi baru dengar yang namanya funnel.

Padahal funnel pertama kali ditemukan 1898 oleh seorang advertiser, namanya Elias St. Elmo Lewis

Beliau menemukan AIDA Model.

AIDA singkatan dari Attention-Interest-Desire-Action.

Orang marketing pasti mual-mual kalo denger AIDA, saking serignya ini adalah model yang paling banyak digunakan di dunia advertising dan marketing.

Buat yang bukan orang marketing Saya jelaskan sekilas tentang AIDA model ini.

Model AIDA ini menggambarkan bagaimana proses pengambilan keputusan pembelian terjadi di pikiran customers.

AIDA Model Sales Funnel
AIDA Model Sales Funnel

Attention: Ini adalah tahapan ketika customers mulai aware tentang sebuah produk, biasanya dari iklan atau promosi.

Interest: Ini adalah tahapan ketika customers mulai tertarik dengan sebuah product karena value nya dianggap fit atau sesuai dengan lifestyle mereka.

Desire: Pada tahap ini customers mulai menumbuhkan hasrat untuk memiliki produk itu semakin bertambah.

Action: Ini adalah tahapan ketika customers mulai membulatkan tekad melakukan pembelian.

Kalo disambungkan dengan teori yang lebih kekinian dan lebih sederhana Awareness – Consideration – Decision.

Funnel ini memang mengalami berbagai macam perubahan dan variasi.

Namun intinya masih sama, ada proses yang tidak bisa diloncati dari tahapan customers mulai dari pertama kali mereka mendapatkan materi promosi sampai mereka melakukan pembelian untuk membeli.

Funnel akan bekerja dengan sangat baik jika kita menyupplai cukup materi ke corong atas yang menjadi pintu masuk funnel.

Artinya yang paling bekerja keras untuk mendatangkan traffic untuk digiring masuk funnel tentu saja orang-orang marketing, kemudian di oper ke orang-orang sales.

Lhah terus salahnya funnel apa?

Pensiunkan Model Sales Funnel dan Mencoba Model Flywheel
Model Sales Funnel dan Flywheel Inbound Marketing

Salahnya adalah karena outputnya adalah “customers”

Makin gak ngerti.. kenapa menjadikan customers sebagai output itu salah?

Salahnya dimana?

Nobody trust salespeople, nobody trus marketer…

Salahnya jika kita menjadikan customers sebagai output, maka besar kemungkinan proses yang kita lakukan akan terhenti disana.

Daripada membuat customers merasa happy dan terpuaskan, kita lebih tertarik untuk menarik lagi traffic sebanyak-banyaknya untuk dijadikan customers lagi.

Energi orang-orang marketing dan sales dihabiskan untuk ini saja.

Kita terlalu sering menggembar-gemborkan “service excellence”, namun pada kenyataannya kita hanya tertarik dengan “omset” dibanding dengan aftersales service.

Apakah bisnis kita terjangkit “funnel” fluenza seperti ini?

Ciri-cirinya sangat sederhana..

1. Sepi repeat order karena belum mampu mendeliver service yang maksimal ke customers

Pembeli kita, rata-rata adalah pembeli baru.

Kita gak pernah berpikir untuk mempertahankan pelanggan, karena pelanggan churn atau berhenti berlangganan pun kita tidak khawatir.

Kan masih ada pelanggan baru yang lain, ngapain capek-capek ngurusin ribetnya customers, pelanggan Facebook di Indonesia aja 132 juga lebih. Kalo mereka suka silahkan stay, gak suka ya silahkan cari yang lain.

2. Dengan hanya mengandalkan kemampuan sales dan marketing kita untuk memberikan input ke bagian atas funnel kita, ini artinya kita menggunakan model bisnis yang salah.

Salah karena kita hanya menumpukan tanggung jawab ke mereka, padahal mereka sedang mengalami krisis kepercayaan.

Coba Anda perhatikan grafik diatas yang menggambarkan betapa profesi Salesperson dan Marketer adalah profesi-profesi yang mendapat kepercayaan terdendah dari masyarakat.

Kita orang-orang sales dan marketing, peringkat kita hanya sedikit lebih baik dari politikus yang hanya 1%..

Disini kita merasakan peran sales dan marketing makin hari makin melemah.

Nobody trust salespeople, nobody trus marketer.

Terus siapa yang paling dipercaya oleh people saat ini?

Mereka masih percaya dokter, mereka masih percaya pemadam kebakaran, mereka masih percaya sama guru.

Apakah ini artinya kita harus jadi dokter dulu atau pemadam kebakaran agar bisa dipercaya orang?

Ya tidak harus seperti itu juga..

Hasil survey diatas memberikan sinyal.. Kepada siapa masyarakat masih menaruh kepercayaan besar

Ini yang bisa kita ambil pelajarannya.

Baik dokter maupun petugas pemadam kebarakan sama-sama menyelesaikan PROBLEM atau MASALAH yang tampak nyata.

Dan mendesak untuk diselesaikan (SENSE OF URGENCY).

Ini adalah permainan CONTEXT.

Sebenarnya hampir semua value diatas memberikan VALUE atau MANFAAT.

Mereka juga sama-sama menyelesaikan masalah.

Namun.. Dari semua masalah tersebut, yang paling mendesak untuk disolusikan adalah ketika orang yang punya masalah SADAR (Aware) atas masalah yang dimilikinya.

Karena jika tidak segera diselesaikan maka mereka sendiri yang akan menderita, dengan mengalami masalah yang lebih besar lagi.

Burn Your Problems
Photographer: sebastiaan stam | Source: Unsplash

Baik dari sharing kali ini ada sesi tanya jawab (Q&A) dengan Coach Sam Ipoel di grup telegram Inbound Marketing.

Berikut Q&A nya..

Q: mashu @saifulisme …. saya mau nanya nih…

Saya punya produk dan sudah terdelivery baik ke konsumen…
jadi saya punya aplikasi untuk sistem informasi universitas… dan sudah tercipta happy customers dan ada repeat order dari hampir semua fakultas yang berada di dalamnya…

dan memang waktu untuk mendapatkan hasil bahwa customer akan menjadi bagian dari promote our product butuh proses yang lama dan saya nikmati itu…

tapi ketika keberhasilan repeat order terjadi,, ditengah tengah menikmati tekhni flywheel tadi dihajar dengan sistem birokrasi…

semua kalangan di tahap pelaksana universitas memahami dan mengakui bahwa hanya produk saya saat ini yang bisa menyelesaikan permasalahan disana…

tapi berhubung dihajar dari proses birokrasi yang berubah maka aktivitas saya yang td nya berjalan lancar sudah berubah dan berujung nya di cut…

nah untuk masalah kayak gini gimana ya mashu solusinya…?
apakah marketing sales service saya masih belum melingkari customer sesuai dengan flywheel…? syukron sebelumnya coach

A: Kita harus men-define customers..

Customers itu bukan hanya yang membeli dari kita dengan membayarkan sejumlah uang sebagai ganti value yang ia terima.

Q: Coach , kalau saya jual mainan edukasi anak muslim terus pengen B2B ke sekolah” Islam, kira” nge jalanin Inbound Flywheel nya gimana ya ?

A: Esensi dari Flywheel itu ada 3 aktivitas dalam 1 siklus putarannya.

Attract – Engage – Delight

Di prinsip yang pertama “Provide value before you extract value”.

Berikan value kepada customer sebelum kita mengambil value dari mereka.

Penting bagi kita untuk bisa mendefinisikan value dengan benar.

Ubah mindset yang lama dimana kita hanya menilai value customer dari nilai belanja mereka terhadap produk kita.

Bikin konten-konten umpan kita seberkualitas mungkin.

Kualitas itu bukan hanya dari sisi bobot, tapi juga desain dan penyajiannya.

Jadikan konten kita sebagai rujukan panduan untuk pembelajaran anak bagi para orang tua.

Bikin mereka semudah mungkin merasakan value dari konten yang kita buat tadi.

Kalo mainan ya jelaskan dengan video-video edukatif dengan kualitas premium, lengkapi dengan ebook yang premium juga.

Bukan kualitas kaleng-kaleng.. He he..

Maksudnya bikin konten sekenanya.. Pake kamera hape, audio sekenanya, model juga apa adanya.. Sama sekali tanpa konsep.

Keseriusan kita memberikan value di depan, akan menentukan seberapa besar value yang akan diberikan customer kepada kita. Gambarannya seperti itu.

Q: Kalau penerapan inbound marketing atau flywheel untuk membangun komunitas bagaimana mas?

atau ada contoh sociopreneur yang sukses menggunakan flywheel?

A: Selama komunitas itu positif, dan valuenya bisa dirasakan secara langsung oleh member komunitas.. pasti bias. Justru lebih mudah me-flywheelkan gerakan sosial daripada komersial.

Kesimpulan.

Sebenarnya persamaan marketing konvensional dengan Flywheel Inbound Marketing sama-sama memiliki niat mempromosikan.

Bedanya adalah kalau sistem konvensional iklan langsung dari materi promo kita ke target market.

Sedangkan dengan model flywheel kita “meminjam” happy customers untuk ikut promote produk/brand/konten kita ke networking yang mereka miliki.

Kenapa kita “pinjam tangan” mereka? Karena trust terhadap orang sales dan marketing berikut materi promonya sudah jauh menurun.

Apalagi ketika cutomers experiencenya tidak bagus.

Tanpa harus mereka membeli dari kita dulu, karena ada perluasan definisi customers disini.

Mereka yang membuka relationship dengan kita, dengan merasakan VALUE dari kita, entah difase Attraction atau Engagement itu sudah masuk customers dan bisa diberdayakan.

Bagaimana cara memberdayakannya?

Ini yang kita desain dalam Flywheel model.

Semoga sharing kali ini bermanfaat dan Anda bisa segera menerapkan model flywheel di bisnis Anda.

Sam Ipoel Expert Inbound Marketing | Jangan Lupa Nginbound! Untuk Bisnis Anda Yang Lebih Suistanable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Malcare WordPress Security